banner 970x250
banner 970x250
banner 970x250

Berkas Perkara Dilengkapi KPK, Eks Pejabat Asuransi Jasindo Segera Disidang

  • Bagikan
Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri/ANTARA

JAKARTA – Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) telah melengkapi berkas perkara mantan Direktur Keuangan dan Investasi PT Asuransi Jasindo, Solihah (SLH) dalam kasus dugaan korupsi komisi fiktif.

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri mengatakan, dengan selesainya berkas tersebut maka Solihah serta tersangka swasta Kiagus Emil Fahmy Cornain (KEFC) akan segera disidang.

“Tim penyidik, Kamis (16/9/2021) telah melaksanakan Tahap II (penyerahan tersangka dan barang bukti) kepada tim jaksa dengan tersangka SLH (Solihah) dan tersangka KEFC (Kiagus Emil Fahmy Cornain),” ungkap Ali Fikri kepada wartawan, Jumat (17/9/2021).

Menurut Ali, kini penahanan sudah menjadi wewenang tim JPU. Solihah ditahan di Rutan KPK pada Gedung Merah Putih dan Kiagus Emil di Rutan KPK pada Pomdam Jaya Guntur selama 20 hari ke depan.

“Penahanan dilanjutkan oleh tim JPU, masing-masing untuk 20 hari ke depan, terhitung mulai 16 September 2021 sampai dengan 5 Oktober 2021,” ucapnya.

Ali mengatakan, tim JPU akan segera menyusun dakwaan dalam 14 hari ke depan. Selanjutnya akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Jakarta.

“Dalam waktu 14 hari kerja, tim jaksa segera menyusun surat dakwaan dan melimpahkan berkas perkaranya ke Pengadilan Tipikor,” katanya.

Sebelumnya, KPK telah menahan mantan Direktur Keuangan dan Investasi PT Asuransi Jasindo, Solihah. Solihah dijerat Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

KPK juga menetapkan pemilik PT Ayodya Multi Sarana, Kiagus Emil Fahmy Cornain (KEFC), sebagai tersangka. Emil dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus ini berawal adanya perintah Budi Tjahjono selaku mantan Dirut PT Asuransi Jasa Indonesia yang menyetujui PT AJI menjadi leader konsorsium dalam penutupan asuransi proyek dan aset BP Migas-KKKS Tahun 2009-2012.

Hal tersebut dilakukan dengan bantuan Emil, yang telah melakukan lobi dengan beberapa pejabat BP Migas. Budi sendiri telah divonis bersalah lebih dulu dalam kasus ini. Dia dihukum 7 tahun penjara. (PMJ)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *